jump to navigation

Berbagi Hadiah, Ciri Muslim Berkasih Sayang Oktober 12, 2011

Posted by asysyaakir in islam, Uncategorized.
Tags: , ,
add a comment

Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak jarang terjadi perselisihan dan pertikaian antara sesama mereka. Terkadang perselisihan tersebut akan bertambah tajam jikalau tidak segera ditangani dan dicarikan solusi. Terlebih lagi adanya syaithan ‘sang musuh abadi’ yang tidak akan rela bila kaum muslimin hidup rukun, damai dan saling mencintai. Setiap waktu ia akan berusaha untuk menciptakan konflik dan menyulutnya diantara kaum muslimin.

Islam, telah mengajarkan segala kebaikan bagi para pemeluknya. Termasuk dalam hal ini adalah mengajarkan bagaimana cara menghilangkan sikap permusuhan dan sekaligus menciptakan rasa saling cinta. Salah satu caranya adalah dengan saling memberikan hadiah antara sesama mereka. Berikut ini ada sedikit pembahasan mengenai hadiah, semoga dapat bermanfaat.

Hukum Memberi Hadiah

Hukum memberi hadiah asalnya adalah boleh ketika tidak ada penghalang dalam syariat. Namun hukum asal tersebut dapat berubah menjadi sunnah ketika hadiah ini diberikan dalam rangka untuk mewujudkan perdamaian serta menciptakan rasa saling sayang dan cinta antara sesama muslim. Hadiah juga dianjurkan apabila diberikan dengan tujuan untuk membalas hadiah. Berubah pula hukum boleh tersebut menjadi haram apabila hadiah itu dari sesuatu yang haram atau dengan tujuan yang haram. Perintah untuk saling memberikan hadiah telah disebutkan dalam sunnah Rasulullah , di antaranya adalah sabda beliau dari sahabat Abu Hurairah :

“Salinglah memberi hadiah antara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.“ [H.R. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani ].

Hukum Menerima Hadiah

Menerima hadiah menurut pendapat yang kuat adalah wajib, dengan catatan hadiah tersebut adalah hadiah yang mubah dan tidak ada penghalang dalam pandangan syariat yang bisa dijadikan alasan untuk menolak hadiah.

Kewajiban untuk menerima hadiah tersebut telah diperintahkan, bahkan dilakukan sendiri oleh Rasulullah . Dari Abdullah bin Mas’ud , bahwa Rasulullah bersabda yang artinya, “Penuhilah undangan, janganlah kalian menolak hadiah dan janganlah pula kalian memukul kaum muslimin.” [HR Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani ].

Juga disebutkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang Allah berikan kepadanya sesuatu dari harta ini (hadiah) dengan tanpa meminta-minta maka hendaknya ia menerimanya, karena itu adalah rizki yang Allah berikan kepadanya.” [H.R. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At Targhib].

Kapan Boleh Menolak Hadiah?

Kewajiban untuk menerima hadiah bukan berarti mutlak harus dilakukan, namun dibolehkan untuk tidak menerimanya apabila ia memiliki alasan yang sesuai dengan syariat. Rasulullah pun pernah pula menolak hadiah dengan alasan tertentu. Di antara alasan bolehnya menolak hadiah:

a. Karena adanya larangan untuk menerimanya dengan sebab syariat.

Dari As-Sha’ab bin Jatsamah bahwa beliau suatu saat memberi hadiah kepada Nabi berupa daging kuda zebra, tetapi Rasulullah menolak hadiah tersebut. Maka berubahlah rona muka shahabat tersebut, melihat hal ini Rasulullah bersabda yang artinya, “Saya tidak menerima hadiah tersebut kecuali sebabnya saya sedang dalam keadaan Ihram” [H.R. Bukhari dan Muslim]. Dalam riwayat ini beliau tidak menerima hadiah tersebut dikarenakan beliau dalam keadaan haji, sedangkan orang yang haji tidak diperbolehkan untuk makan dari hewan buruan, dan kuda zebra dalam hadits ini adalah hewan buruan.

b. Karena udzur (alasan tertentu).

Dari Abdullah bin Abbas bahwa suatu saat bibinya yaitu Ummu Hafid memberi hadiah kepada Nabi berupa: susu kering, minyak samin serta adhab (hewan sejenis biawak yang hidup di padang pasir, dan makanan pokoknya adalah tumbuhan), maka beliau memakan susu kering, minyak samin dan menolak adhab.” [H.R. Al Bukhari dan Muslim].

Dalam hadits ini Rasulullah menolak untuk memakan adhab. Adhab adalah makanan yang biasa dimakan oleh kaum Anshar namun tidak biasa dimakan oleh penduduk Mekah, sehingga beliau merasa risih untuk memakannya walaupun tidak diharamkan.

c. Menolaknya karena khawatir mudharat yang akan menimpanya.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda yang artinya, “Demi Allah, setelah tahun ini aku tidak akan menerima hadiah kecuali dari orang-orang yang berhijrah, orang Quraisy, orang Anshar, orang Daus, atau orang Tsaqafy.” [H.R. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani ].

Penolakan beliau atas hadiah selain dari orang-orang yang tersebut ini disebabkan karena sebelumnya ada seorang Arab Badui yang memberikan hadiah kepada Nabi . Merupakan kebiasaan mereka adalah memberikan hadiah dalam rangka untuk mendapatkan balasan yang lebih baik. Maka Rasulullah memberikan hadiah kepada orang ini dengan sesuatu yang dimampui Nabi . Namun orang ini marah dan tidak terima, sampai akhirnya Nabi memberi dengan kadar yang diinginkan orang tersebut. Maka, di sini dapat diambil pelajaran bahwa kita boleh menolak hadiah atau pemberian jika hal tersebut akan memberikan kemudharatan kepada kita atau akan menjadikan rendah orang yang menerima hadiah tersebut.

Demikian sekilas mengenai hadiah dan hukum-hukumnya, semoga kita dapat memetik manfaat darinya. Wallahu a’lam. [hammam].

Dikutip dari Majalah Tashfiyah

Buktikan Keberanianmu… Februari 12, 2010

Posted by asysyaakir in islam.
add a comment

Penulis: Al Ustadz Adurrahman Lombok

“Tidak semua orang memiliki keberanian sejati. Tahukah anda apakah keberanian sejati itu? Keberanian sejati adalah sikap bersedia dikoreksi bila salah dan siap menerima kebenaran meskipun dari orang yang memiliki kedudukan lebih rendah.”

Berkata memang mudah. Namun untuk mempraktekkan apa yang diucapkan butuh pengorbanan yang besar. Bahkan terkadang harus dengan taruhan nyawa. Orang yang berbicara dengan kata yang diolah demikian rupa dan disusun rapi dan indah sehingga mampu membuat orang terkesima, biasanya mudah diacungi jempol dan dianggap sebagai orang “hebat”. Walaupun dalam kesempatan lain dia melanggar dan menelan perkataannya sendiri.

Bila penilaian untuk menjadikan seseorang sebagai murabbi (pembimbing) cukup dengan perkataan yang membuat umat terkesima, maka sadarilah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan kepada Rasul-Nya agar berhati-hati dari orang demikian (artinya):
(lebih…)

Cukup katakan, “Saya tidak tahu…” Februari 9, 2010

Posted by asysyaakir in islam.
add a comment

Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Disamping golongan pengingkar sunnah yang menolak hadits-hadits shahih dengan akal dan hawa nafsunya, adapula golongan yang “sok tahu”. Mereka berbicara tanpa ilmu. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Dajjal akan keluar dari segitiga bermuda, Dajjal adalah Amerika karena memandang dengan sebelah mata, Ya’juj dan Ma’juj adalah pasukan mongol, dan lain-lain.

Maka pada edisi kali ini akan kami bawakan dalil dan ucapan para shahabat dan ulama’ yang membimbing kta untuk belajar mengatakan “tidak tahu” terhadap hal- hal yang memang tidak diketahui, apalagi pada perkara-perkara yang ghaib yang tidak ada perincian dan penjelasannya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Allah Tabaroka wata’ala berfirman,

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung- jawabannya” (Al-Isra:36)
(lebih…)

DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH 1430 H BERSAMA MASYAYIKH Juni 13, 2009

Posted by asysyaakir in islam.
2 comments

Alhamdulillah, segala pujian yang sempurna hanyalah milik Allah semata. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wassallam, keluarga, sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir masa.

Pada tahun 1430 H ini, insya Allah akan kembali diselenggarakan daurah ilmiah bersama para masyayikh Ahlus Sunnah dari Timur Tengah.

Daurah yang kelima ini insya Allah akan menghadirkan beliau, hafizhahumullahu jami’an :

1. Asy-Syaikh Dr. `Abdullah bin `Abdurrahim Al-Bukhari (Saudi Arabia)
2. Asy-Syaikh `Abdullah ibn Shalfiq Azh-Dzufairi (Saudi Arabia)
3. Asy-Syaikh `Ali ibn Yahya Al-Haddadi (Saudi Arabia)
4. Asy-Syaikh Khalid ibn Dhahwi Azh-Zhafiri (Kuwait)

Tema :
“Jalan Keluar dari Problematika Hidup adalah Kembali kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dengan bimbingan para Ulama”
(lebih…)

Mengapa Umat Islam Selalu Ditindas ? Mei 21, 2009

Posted by asysyaakir in islam.
add a comment

oleh : Syeikh Muhammad Nashiruddin Al AlBany

Segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji-Nya dan memohon ampunan-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami dan dari kejelekan amalan perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa disesatkan tidak ada yang bisa menunjukinya. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. 3:102)

(lebih…)

Kedudukan Tauhid dalam Islam dan Urgensinya April 24, 2009

Posted by asysyaakir in islam.
add a comment

Penulis: Al-Ustadz Abdurrahman Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi
Aqidah, 23 Juli 2003, 07:45:27

Dakwah merupakan ibadah yang agung. Sayangnya, dakwah telah banyak disalahgunakan untuk membungkus kampanye politik dalam rangka mencari pengikut, merekrut simpatisan dan kader partai, atau sekedar mencari dunia. Di sisi lain, ada da’i yang mengkhususkan pada persoalan-persoalan politik hingga melupakan hal-hal mendasar dalam Islam. Lalu bagaimanakah sesungguhnya dakwah Rasulullah itu?
(lebih…)

Allaah Has Named us Muslims, So Why Ascribe Ourselves to the Salaf ? Februari 26, 2009

Posted by asysyaakir in islam.
add a comment

This doubt was very beatifully answered by Imaam al-Albaani in his discussion with someone on this subject, recorded on the cassette entitled, “I am Salafi”, and here is a presentation of the vital parts of it:

Shaikh al-Albaani: “When it is said to you, ‘What is your madhhab’, what is your reply?”

Questioner: “A Muslim”.

Shaikh al-Albaani: “This is not sufficient!”.
(lebih…)

Agar Dada Seorang Hamba menjadi Lapang dan Bersinar Februari 25, 2009

Posted by asysyaakir in islam.
2 comments

Oleh : Ust. Dzulqarnain Bin Muhammad Sanusi

Hiruk pikuk kehidupan dengan berbagai bentuk aktivitas yang terus bergulir tanpa henti sering melahirkan halangan dan tantangan yang mengantar seorang hamba kepada gundah gulana dan ketidaktenangan hati. Namun bagi seorang mukmin sejati, cahaya Al-Qur’ân dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam adalah penerang jalan menuju kepada kehidupan indah yang senantiasa membuat dadanya lapang dan bercahaya.

Hidup dengan dada yang lapang adalah suatu nikmat yang sangat berharga dan dambaan setiap insan. Renungilah besarnya nikmat ini sehingga Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan Nabi-Nya terhadap karunia tersebut dalam firman-Nya,

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS. Al-Insyirâh :1)

Dan Nabi Musa ‘alaissalâm setelah beliau dimuliakan menjadi seorang rasul, maka awal doa beliau kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ,

“Berkata Musa: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku,”…” (QS. Thohâ :25)Banyak hal dalam tuntunan syari’at kita yang diterangkan sebagai tumpuan-tumpuan berpijak bagi seorang hamba agar senantiasa berhati lapang dan bercahaya.

Berikut ini, beberapa pilar pelapang dada seorang hamba, kami simpulkan dari keterangan Ibnul Qayyim[1]dan selainnya :
(lebih…)

2nd: With Dr. Budi on Gizi II Februari 25, 2009

Posted by asysyaakir in medicine.
add a comment

Bismillah…

Alhamdulillah alaa kulli hal…

Vuiiih, setelah skian pekan, akhirnya baru bisa ngelanjutin tulisan. Oke, yg kami mau lanjutin adalah bagaimana mdiagnosis atau menentukan seseorang sudah dikatakan obes atau blum. Kalo pmbahasan yg lalu, dikatakan obes jika BMI mlebihi 25 (standar asia). Namun sperti yg telah dibicarakan bahwa BMI tidak mnerangkan dgn pasti komposisi badannya. Padahal, seorang yg obes adalah orang yg BMI nya lebih dari batas over weight (25), dan komposisi tubuhny sebagian besar adalah lipid.

Jadi, dari beberapa pengertian ttg obes, dalam mnentukan penyakit ini (para ahli mnyebut obes sebagai chronic disease) adalah perlu diukur komposisi lipid dalam tubuh. Normalnya, komposisi wanita dan pria berbeda. Atas dasar ini, pria baru dikatakan obese kalo kadar lipidnya lebih dari 24% tubuh. Sedangkan wanita agak lebih besar yaitu 35%, baru dikatakan obes. Ternyata eh ternyata, perbedaan ini ngga lain dan ngabukan karena perbedaan hormon. Inget Mba Estrogen, nah tuh dia hormon yang bikin standar beda pada laki-laki dan wanita dewasa.

(lebih…)

Jiwa pertamaQ di 20 Shafar 1430 Februari 21, 2009

Posted by asysyaakir in medicine.
add a comment

Bismillah…
Walhamdulillah alaa kulli haal…

Hari ini adalah hari pertama kuliah Ilmu Penyakit Jiwa. Profesi bidang ini disebut Psikiater. Kirain isinya kuliah beneran, ternyata hanya “Introducing Ceremony”. Lebih tepatnya…kenalan, y kenalan…
(lebih…)